| Saturday, May 12, 2007 |
| Saran-saran Memilih Skin Blog (1) |
| Telah di singgung sebelumnya bahwa anda dapat mengubah tema dan judul yang anda masukkan ke dalam blog. Bahkan anda bisa bisa menghapus blog, bila anda memutuskan untuk melakukan itu. Meskipun anda tetap memiliki nama user dan password, yang suatu saat anda bisa membuat blog lainnya. Agar blog anda terlihat menarik, nama dan gambaran judul biasakan untuk seseuai. Walau sebenarnya tidak ada ketentuan untuk hal tersebut. Jadi suka-suka anda juga tidak apa-apa. Toh tidak semua orang membuat blog dengan serius. Selain untuk iseng-iseng, blog juga berfungsi sebagai tumpahan kekesalan atau ekspresi anda. Mana tahu ada yang senasib. Yah, smaa seperti diari biasa, namun sifatnya online. Kebanyakan blog sekarang ini berisi; curahan hati sehari-hari, baik perasaan gembira, sedih, ucapan selamat, bahkan penafsiran atau pandangan-pandangan user terhadap suatu fenomena di lingkungannya. Bentuk atau isi blog pun dapat bermacam-macam, mulai dari esai, untaian puisi, cerpen lirik lagu, saduran berita dan bahkan galeri foto. Tidak ada ketentuan bagaimana blog akan disajikan. Jadi jangan ragu-ragu untuk mengekspresikannya. Namun demikian tidak ada salahnya bagi anda untuk melatih kepekaan seni, untuk menyesuaikan tampilan dengan isi blog. Misalnya dengan menyesuaikan warna. Warna memiliki representasi yang berbeda-beda terhadap seseoarang dalam mempersepsikannya. Berikut makna simbol warna. Hitam Melambangkan perlindungan, pengusiran, sesuatu yang negatif, mengikat, kekuatan, formalitas, misteri, kekayaan, ketakutan, kejahatan, ketidakbahagiaan, perasaan yang dalam, kesedihan, kemarahan, sesuatu yang asing (underground) modern musuc, harga diri dan antikemapanan. Warna hitam sangat tepat digunakan untuk menambah kesan misteri. Latar belakang warna hitam dapat menampilkan perspektif dan kedalaman. Warna hitam sangat bagus untuk menampilkan karya seni atau fotografi karena membantu penekanan pada warna-warna lain. Lihat warna lain.... Tips & Trik Lainnya.
Labels: Blog |
posted by Redaksi @ 10:24 AM  |
|
|
| Sunday, April 8, 2007 |
| Mengapa Indonesia Perlu Optimis |
Di tengah keterpurukan Indonesia, masih sehatkah untuk bersikap optimis, saat semua media dan koran-koran memblow-up keterpurukan tersebut demi rating. Sebuah tulisan dibawah ini menjelaskan mengapa perlu optimis.
Mengapa Perlu Optimis ?
Oleh: Ubaydillah, AN
Jakarta, 22 Januari 2007
Mengapa optimisme diperlukan?
Apakah Anda seorang yang optimis dalam menghadapi bulan-bulan ke depan di tahun 2007 ini? Tunggu dulu. Kita orang optimis atau pesimis tidak penting diutarakan secara verbal di hadapan orang lain. Kitalah orang yang paling tahu apakah kita seorang yang optimis atau pesimis. Tingkat ke-optimis-an dan ke-pesimis-an kita tidak bisa diukur dengan ucapan mulut. Mulut kita memang bisa saja mengatakan kita ini orang optimis. Meski begitu, jika yang kita praktekkan sehari-hari justru bertentangan dengan kaidah-kaidah optimisme, maka kita bukanlah orang yang optimis.
Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus buat kita (punya harapan). Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Kalau dipendekkan, optimis berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita GUNAKAN untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus.
Optimisme seperti itu dalam prakteknya sangat diperlukan. Ini antara lain dengan alasan-alasan:
Pertama, energi positif (dorongan). Kalau bicara harapan sebatas harapan (baca: harapan mulut), tentunya kita sudah tahu kalau harapan itu tidak bisa mengubah apa-apa. Lalu untuk apa kita membutuhkan harapan (optimisme)? Ini untuk mengeluarkan energi positif. Untuk menciptakan langkah dan hasil yang lebih bagus dibutuhkan harapan yang lebih bagus agar energinya lebih bagus. Memiliki harapan yang lebih bagus akan memunculkan energi dorongan yang lebih bagus.
Sekarang, coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan seandainya kita sudah tidak memiliki harapan adanya kehidupan yang lebih bagus di masa datang? Kemungkinan yang paling dekat adalah kita tidak terdorong untuk melakukan sesuatu yang lebih bagus, terasa hambar, terasa biasa-biasa saja. Kehidupan yang lebih bagus memang tidak bisa diwujudkan dengan hanya harapan, namun untuk meraihnya dibutuhkan harapan yang bagus. Karena itu ada yang mengatakan, selama harapan itu masih ada berarti kehidupan kita masih ada. Collin Powell sendiri mengakui: “Optimism is a force multiplier.
Kedua, perlawanan. Tingkat perlawanan seseorang terhadap masalah atau hambatan yang dihadapinya juga terkait dengan tingkat keoptimisannya. Orang dengan optimisme yang kuat biasanya punya perlawanan yang kuat untuk menyelesaikan masalah atau hambatan. Sebaliknya, orang dengan optimisme rendah (pesimis), biasanya punya tingkat perlawanan yang lebih rendah, cenderung lebih mudah pasrah pada realitas atau keadaan ketimbang memperjuangkannya.
Secara agak lebih ekstrim sedikit, kita bisa membagi manusia dalam menghadapi masalah / hambatan itu menjadi tiga kelompok, seperti yang ditulis Less Brown dalam “Learn To Be Winner” (Top Achievement: 2000]. Ketiga kelompok itu adalah the winner (pemenang), the loser (pecundang) dan the potential winner (calon pemenang). Menurut Kevin Costner, yang disebut pemenang itu adalah orang yang jatuh, gagal dan kurang, tetapi pada akhirnya menang karena pendirian, keyakinan dan komitmen yang dipegangnya dengan teguh untuk mencapai impiannya."
Apa yang membuat seseorang menjadi pemenang dan pecundang? Tentu banyak faktor yang terlibat. Tapi kalau mau melihat kondisi faktor internal, tentu peranan harapan atau optimisme tidak bisa dielakkan. Kalau mau pakai pedoman pendapat Greg Phillip (The ultimate potential: 2004), faktor internal yang terlibat itu adalah: a) harapan, b) keyakinan, c) kontrol-diri, dan d) sikap mental.
Ketiga, sistem pendukung. Harapan optimisme juga berfungsi sebagai sistem pendukung. Kalau kita menginginkan keberhasilan, lalu kita berpikir berhasil, punya kemauan untuk berhasil, punya sikap yang dibutuhkan untuk berhasil dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk keberhasilan itu, maka logikanya kita pasti berhasil. Soal kapannya itu urusan lain.
Yang menjadi masalah buat kita adalah kita menginginkan keberhasilan tetapi kita malas-malas (tidak punya kemauan), punya sikap yang tidak mendukung, berpikir negatif, harapannya pesimis, dan lebih sering tidak melakukan hal-hal yang kita butuhkan untuk berhasil. Ibarat mesin, jika yang aktif hanya satu sistem, sementara sistem yang lain mati atau bekerja untuk hal-hal yang tidak kita inginkan, maka operasi sistem itu kurang optimal.
Intinya, harapan di sini bukan tujuan, apalagi tempat bergantung. Kita tidak boleh menggantungkan harapan pada harapan itu, melainkan pada usaha. Harapan di sini adalah metode atau jalan agar kita bisa mengeluarkan energi positif, bisa mengatasi masalah secara positif sepositif harapan kita dan bisa memiliki mesin prestasi yang seluruh sistemnya bergerak secara positif.
Sebuah temuan mengungkap bahwa orang yang memiliki harapan optimis, umumnya memiliki kualitas di dalam diri yang antara lain:
§ Punya fokus langkah yang selektif, punya sasaran usaha yang jelas
§ Bisa menerima fakta hidup dengan kesadaran, tanpa banyak mengeluh atau memprotes
§ Memiliki bentuk keyakinan yang membangkitkan
§ Punya perasaan diberkati rahmat Tuhan
§ Punya kemampuan untuk menikmati kehidupan
§ Punya kemampuan dalam menggunakan akal sehatnya dalam menghadapi tantangan hidup
§ Punya kemampuan untuk menjalankan agenda perbaikan diri secara terus menerus
§ Punya penghayatan yang bagus terhadap praktek hidup yang dijalankan sehingga bisa membedakan praktek yang salah dan praktek yang benar; praktek yang tepat dan praktek yang menyimpang
§ Punya kepercayaan yang bagus terhadap kemampuannya
§ Punya perasaan yang bagus terhadap dirinya
Apa yang perlu dihindari dalam berharap?
Meski untuk berharap itu tidak ada peraturannya, namun berdasarkan pengalaman dan kebiasaan, ada beberapa hal yang akan lebih bagus kalau dihindari. Beberapa hal itu antara lain:
Pertama, harapan mulut (wish). Seperti apa harapan mulut itu? Kalau kita berharap adanya hari esok yang lebih bagus, namun itu hanya kita gunakan dalam ucapan atau tulisan, tanpa diiringi dengan tujuan, perencanaan, strategi, tehnik dan pelaksanaannya (aksi), ya ini namanya harapan mulut. Biasanya, harapan seperti ini tidak mengubah apa-apa. Harapan seperti ini sama seperti fantasi atau keinginan-keinginan yang sifatnya masih umu.
Para pakar pengembangan diri umumnya membedakan antara “wish” dengan “goal” (tujuan atau keinginan yang jelas). Katanya, orang lemah biasanya hanya punya wish; sementara orang kuat biasanya memiliki goal. Goal adalah keinginan dengan sasaran yang jelas dan jelas-jelas kita usahakan. Sekedar punya wish dalam pengertian seperti ini, tentu semua orang bisa. Sayangnya, praktek hidup ini tidak peduli dengan berbagai wish yang kita ucapkan.
Kedua, terlalu berharap (over-expectation). “Jangan terlalu berharap nanti kecewa sendiri”, itu pesan yang sering kita dengar. Memang ini tidak pasti tetapi biasanya begitu. Terlalu berharap itu berbeda dengan memiliki harapan yang kuat (optimis). Harapan yang kuat berujung pada aksi atau usaha yang kuat. Seperti yang sudah kita bahas, optimisme itu artinya kita menciptakan keyakinan dan menggunakannya dalam bertindak. Sementara, terlalu berharap biasanya hanya berhenti pada mengharap, untuk mengharap dan selalu mengharap. Ada pepatah yang berpesan begini: “Jika kau mengharapkan sesuatu, jangan terlalu mengharapkannya.” Bahkan Samuel Somarset mengamati bahwa terlalu mengharapkan sesuatu kerapkali malah mengundang datangnya sesuatu yang tidak kita harapkan. Inilah anehnya hidup itu.
Ketiga, berharap dengan setengah takut (ragu-ragu). Biasanya, harapan seperti ini lahir dari ketidaktahuan kita secara akurat. Jika kita mengharapkan hari esok yang lebih bagus, namun kita tidak tahu apa alasan kita berharap seperti itu, ya mau tidak mau harapan kita tidak steril. Harapan kita masih bercampur dengan ketakutan dan keragu-raguan. Seperti kata Coach Bear Bryant, yang membedakan orang per-orang itu bukan harapannya pada keberhasilan, tetapi persiapannya. Semua orang mengharapkan keberhasilan, tetapi hanya orang yang punya persiapan matang yang berpeluang untuk berhasil.
Keempat, menggantungkan harapan pada kenyataan.Kalau kita hari ini punya harapan cerah karena sehabis terima bonus tahunan, kemudian bulan depan kita berharap lesu karena tidak ada bonus, ini namanya menggantungkan harapan pada kenyataan. Artinya, kita men-set harapan itu sesuai dengan kenyataan-sementara yang kita hadapi.
Pada ukuran yang wajar, bisalah kita sebut ini kelemahan-manusiawi yang wajar. Dibilang tidak bagus memang tidak bagus tetapi ini dimiliki oleh semua manusia. Nah, agar kewajaran ini tidak membuahkan kerugian atau kefatalan, maka kita diajarkan untuk menggantungkan harapan pada Tuhan(iman), bukan pada realitas. Artinya, kita perlu belajar menemukan alasan yang kuat untuk bisa memiliki harapan optimisme, terlepas realitas-sementara yang kita hadapi. Seperti pesan Einstein, orang optimis bisa melihat sinar di ujung kegelapan; bisa melihat tanda-tanda peluang di balik kesulitan.
Kelima, mempertentangkan harapan dan kenyataan. Apa yang membuat orang stress berkepanjangan? Apa yang membuat orang terkena konflik-diri terlalu lama? Salah satunya adalah kurang bisa me-manage gap antara harapan dan kenyataan. Orang yang bisa me-manage, biasanya menjadikan kenyataan sebagai dorongan untuk mewujudkan harapannya. Mereka bisa menggunakan ketidakpuasan sebagai dorongan untuk menciptakan perubahan. Banyak kan orang yang akhirnya mendapatkan “berkah” dari kenyataan buruk yang dihadapinya?
Sebaliknya, orang yang belum bisa me-manage, kerapkali menjadikan kenyataan ini sebagai killer harapannya. Mereka menjadikan kenyataan sebagai penyubur apatisme dan pesimisme. Meski sama-sama menghadapi kenyataan yang sama, namun karena sikap mentalnya berbeda, ya akan berbeda hasilnya. Tidak sedikit kan orang yang selalu menuding kenyataan dan menjadikan kenyataan itu sebagai dalil pembenar untuk hopeless?
Bagaimana menciptakan harapan yang optimis?
Harapan optimistik berbeda dengan harapan pesimistik. Bedanya dimana? Bedanya adalah, yang pertama harus diciptakan, sedangkan yang kedua tidak usah diciptakan. Pertanyaannya adalah, bagaimana menciptakan harapan optimistik itu? Di bawah ini ada beberapa pilihan yang bisa kita jadikan acuan:
Pertama, memiliki tujuan atau sasaran aktivitas yang jelas. Apa tujuan yang hendak anda raih di tahun 2007 ini? Kalau anda pelajar/ mahasiswa, tentukan tujuan atau standar prestasi yang benar-benar ingin anda raih. Kalau anda seorang karyawan, tentukan tujuan atau standar prestasi yang hendak anda wujudkan. Kalau anda seorang pengusaha, tentukan tujuan usaha anda yang lebih tinggi dari yang kemarin.
Banyak studi yang sudah mengungkap bahwa keoptimisan seseorang itu terkait dengan “internal value” dan “standard”. Memiliki harapan optimistik tidak bisa dibuat-buat. Sejauh di dalam batin kita ada standar, ada sasaran atau tujuan yang benar-benar berarti buat kita dan benar-benar kita perjuangkan, maka secara otomatis harapan itu muncul. Seperti kata C.R. Synder, Ph.D, penulis buku “The Psychology of Hope”, bahwa menentukan tujuan merupakan cara untuk membangkitkan harapan.
Kedua, ciptakan opini-diri yang bagus. Orang itu memang bermacam-macam. Terkait dengan opini-diri ini, ada orang yang meng-opini-kan dirinya sebagai orang lemah, tidak memiliki apa-apa, merasa tidak sanggup untuk merealisasikan tujuannya, merasa tidak punya alasan untuk berhasil, merasa tidak memiliki resource yang dibutuhkan, dan lain-lain. Ada juga orang yang berusaha meng-opini-kan dirinya sebagai orang kuat (warrior), merasa yakin dan mampu akan dapat mewujudkan tujuannya, merasa punya alasan yang kuat untuk berhasil, tahu apa yang harus dilakukan, tahu resource yang bisa digunakan, dan seterusnya.
Opini-diri mana yang lebih positif untuk kita miliki? Tentu saja yang kuat. Opini-diri yang kuat memang tidak otomatis dapat merealisasikan tujuan-tujuan atau sasaran yang kita buat. Tetapi perlu diingat, untuk merealisasikan tujuan itu dibutuhkan opini-diri yang bagus. Coba saja kita membiarkan opini-diri yang lemah, mana mungkin kita sanggup untuk sekedar punya harapan yang optimistik.
Jhon C. Maxwell pernah berpesan begini: “Ketika anda mengubah pikiran anda maka keyakinan anda akan berubah. Ketika anda mengubah keyakinan anda maka harapan anda berubah. Ketika anda mengubah harapan anda maka sikap anda akan berubah. Ketika anda mengubah sikap anda maka prilaku anda akan berubah. Ketika anda mengubah prilaku anda maka performansi anda akan berubah. Ketika anda mengubah performansi anda maka hidup anda akan berubah.”
Ketiga, miliki sikap dan pandangan yang sehat tentang hidup ini. Konon, salah satu penyebab yang membuat orang gagal memiliki harapan optimistik adalah sikapnya yang kurang sehat. Bagaimana sikap dan pandangan yang kurang sehat itu? Salah satunya adalah ketika kita tidak bisa menerima kenyataan dengan berbagai macam warna-warninya (fakta kehidupan). Ketika kita tidak belajar menerima kehidupan ini seperti adanya untuk kita usahakan seperti yang kita inginkan, memang yang kerap terjadi malah membikin kita mudah terkena stress atau tekanan. Kalau sudah begini, harapan kita juga terancan. Tetaplah berharap akan adanya kehidupan yang lebih bagus tetapi juga harus mengakui dengan kesadaran akan fakta hidup yang ada: terkadang ada OK dan terkadang tidak OK.
Keempat, temukan model. Model yang dimaksudkan di sini adalah orang. Temukan orang yang kira-kira budaya hidupnya bisa anda contoh. Temukan orang yang kira-kira pendapatnya tentang diri anda dan dunia ini bisa membangkitkan anda. Temukan orang yang bisa meng-inspirasi anda. Saran Mark Twin, jangan mendekati orang yang ucapannya malah menghancurkan harapan anda (menggembosi). Jangan pula mencontoh orang yang tidak punya harapan optimistik apabila kita ingin punya harapan optimistik.
Orang seperti itu bisa orang yang anda di sekeliling anda, kenalan, atau orang yang anda kenal lewat karyanya saja. Di majalan Fast Company edisi 20 Desember 2006 ini, ada kalimat yang bagus untuk kita ingat. Kalimat itu bunyinya begini: "Often the most important people in our network are those who are acquaintances." Acquaintances itu belum menjadi friend apalagi close friend, tetapi kenalan. Intinya, kita tidak perlu pusing mencari model orang karena ada dimana-mana dan bisa siapa saja.
Kelima, tingkatkan keimanan. Salah satu esensi keimanan adalah adanya kesadaran bahwa kita ini “dimiliki” (being owned) oleh Tuhan atau munculnya perasaan “kebersamaan” dengan Tuhan. Semakin kuat keimanan itu, semakin kuat juga kesadaran itu dan rasa kebersamaan itu. Punya kesadaran yang kuat bahwa kita ini “dimiliki” akan membuat kita tidak mudah merasa sendirian atau merasa tidak memiliki siapa-siapa dalam menatap masa depan. “Keimanan”, menurut kesimpulan Margo Jones, adalah prasyarat bagi semua usaha.
Labels: News |
posted by Redaksi @ 2:48 PM  |
|
|
|
| Sipil Indonesia Untuk Reformasi PBB |
Forum masyarakat sipil Indonesia untuk reformasi PBB
Sepanjang tahun 2005, agenda global yang saling berkaitan antara pembangunan, keamanan dan Hak asasi manusia telah diletakkan dalam Konteks Reformasi PBB dan review 5 tahun Deklarasi Millenium PBB +5 (Millenium +5).
Sekretaris Umum PBB, Kofi Annan dalam laporannya yang berjudul “Untuk Kebebasan yang Lebih Besar” dalam sidang umum PBB, telah memberikan stimulasi dan provokasi debat umum mengenai keamanan dan hak asasi manusia. Gerakan Panggilan Global untuk Memerangi Kemiskinan (Global Call to Action against Poverty) yang terus berkembang, dan partisipasi kritis masyarakat sipil dalam Tujuan Pembangunan Millenium (Millenium Development Goals atau MDGs) ikut mendorong bergeraknya momentum baru menuju Millenium+5. Berkaitan dengan hal ini, tahun 2005 menjadi tahun bersejarah, dimana muncul berbagai tantangan dan kesempatan bagi masyarakat dan organisasi masyarakat sipil.
Begitu banyak masyarakat sipil internasional dan organisasi non-pemerintah yang telah terlibat dalam proses reformasi di berbagai bidang. Tetapi tidak banyak dari perdebatan proses tersebut yang terjadi di Asia. Konsekuensi logis dari kekurangan ini adalah sedikitnya kontribusi yang dapat diberikan oleh masyarakat sipil Asia. Padahal proses penentuan agenda global di sektor keamanan, hak asasi manusia dan pembangunan memiliki dampak langsung maupun tidak langsung dalam kehidupan masyarakat Asia. Adalah penting jika komunitas Asia bisa menyuarakan aspirasi, harapan dan visi mereka.
Rapat kerja ini memberikan ruang dan waktu kepada para wakil organisasi masyarakat sipil, untuk berbagi pengalaman diantara mereka, melihat dan mendiskusikan tentang kekhawatiran/masalah mereka serta strategi yang sudah diambil selama ini. Rapat kerja ini juga menghasilkan artikulasi posisi bersama (common position) dalam isu-isu global.
Rapat kerja ini merupakan hasil tindak lanjut dari Forum Masyarakat Sipil Asia (Asian Civil Society Forum atau ACSF) ke-2 yang diselanggarakan di Bangkok pada tanggal 21-25 November 2004 (www.acsf.net). ACSF 2 membahas tentang hubungan PBB dengan organisasi non-pemerintah dan perdebatan seputar MGDs dalam konteks Millenium+5. Dalam konteks hak asasi manusia, rapat kerja ini merupakan lanjutan dari diskusi dan briefing pada Reformasi Komisi HAM di Jenewa pada tanggal 15 April 2005 dengan DR. Makarim Wibisono, Ketua Komisi HAM PBB ke-61. (www.unchr.info)
Hasil dari rapat kerja ini adalah kompilasi masukan mengenai proses umum masyarakat sipil Asia, misalnya inter-sessional working group tentang Reformasi Komisi HAM (Jenewa, akhir Juni 2005), Dengar Pendapat Publik Majelis Umum PBB pada Deklarasi Millenium/MGDs+5 (New York, 23-24 Juni 2005) dan Debat Majelis Umum PBB tentang Reformasi PBB (New York, September 2005).
Labels: News |
posted by Redaksi @ 2:32 PM  |
|
|
| Saturday, March 31, 2007 |
| Indonesian Economic |
Labels: Economic |
posted by Redaksi @ 11:14 PM  |
|
|
|